Sign Up |  Login

     
 
    My Blog |  Popular Posts |  Top 100 Blogs |  Recent Blogs |  Random Blogs |  Write a Blog |  Manage Categories |  New Members |  Comments  
   View Blog
 
 Lima Bahasa Cinta
Untuk pasangan-pasangan
yang ingin tetap harmonis
dalam perkawinan mereka
Romantika Perkawinan
Jatuh Cinta
dan Nasibnya



Sebagian besar pasangan memasuki perkawinan melalui jalan dan pengalaman jatuh cinta. Saat seseorang bertemu dengan orang lain yang potongan fisik dan sifat kepribadiannya cukup kuat untuk menciptakan setrum listrik di hati dan menggugah cintanya, ia sedang berproses tenggelam dalam pengalaman jatuh cinta. Pada puncak proses itu, ia akan mengalami kebahagiaan dan kesegaran jasmani maupun rohani.
Secara emosional, dalam pengalaman jatuh cinta, orang terobsesi satu dengan yang lainnya. Yang ada dalam hidup orang bersangkutan hanyalah hasrat untuk selalu bersama dengan kekasihnya. Pada saat itu, orang mempunyai bayangan bahwa kekasihnya adalah sempurna. Tidak ada satupun yang buruk pada sang kekasih. Kemudian, orang mulai memimpikan perkawinan yang membawa kebahagiaan. Perbedaan dan kesulitan yang akan datang pasti akan dapat diselesaikan bersama.
Pada umumnya, orang mempercayai bahwa apabila ia sungguh jatuh cinta, keadaan itu akan bertahan seumur hidup. Sayang sekali, keabadian pengalaman jatuh cinta itu hanyalah khayalan. Para ahli menyimpulkan, obsesi romantis jatuh cinta paling-paling bertahan selama dua tahun. Bagaimanapun akhirnya orang harus turun dari awang-awang ke bumi kenyataan. Saat itulah mata orang mulai dapat jelas-jelas melihat kekurangan pasangannya.
Gagasan bahwa obsesi romantis akan bertahan selama-lamanya adalah keliru. Jatuh cinta memberikan bayangan bahwa seseorang memiliki hubungan yang intim, merasa memiliki satu sama lain. Orang menjadi altruistis, mau melakukan apapun demi kebaikan pasangan. Sebaliknya, ia pun yakin bahwa pasangan mau melakukan yang sama terhadap dirinya. Bayangan ini sebenarnya mengada-ada karena tidak realistis. Lupa diperhitungkan bahwa orang pada dasarnya egosentris, memusatkan segala sesuatu untuk dirinya, dan tidak akan dapat sepenuhnya altruistis, hanya demi orang lain. Ketika pengalaman jatuh cinta memudar, sifat asli itu mulai muncul. Sedikit demi sedikit keintiman menghilang, dan sebagai gantinya muncullah hasrat-hasrat, emosi, pikiran dan tingkah laku pribadi.
Beberapa ahli mengusulkan pengalaman jatuh cinta jangan disebut sebagai cinta. Pertama, karena itu bukan tindakan kemauan atau pilihan yang dilakukan secara sadar. Lebih tepat kalau disebut kesengsem. Kedua, karena hal itu terjadi tanpa usaha. Ketiga, karena sesungguhnya belum mengandung minat untuk memupuk kebaikan atau pertumbuhan pribadi orang yang digandrunginya. Orang merasa sudah berada di puncak tertinggi kebahagiaan hidup, tidak perlu kekasihnya berkembang karena ia sudah sempurna. Satu-satunya yang diinginkan adalah berharap agar sang kekasih tetap sempurna.
Jatuh cinta adalah perilaku ingin kawin yang secara naluriah sudah ditentukan secara genetis. Menurut Dr. Peck, jatuh cinta adalah respon stereotip manusia terhadap suatu konfigurasi dorongan-dorongan seks internal dan stimuli seksual eksternal, yang meningkatkan kemungkinan penyatuan dan keterikatan seksual sehingga mempertinggi kelestarian spesies.
Walaupun obsesi jatuh cinta tidaklah abadi, orang-orang tetap menganggap penting untuk memulai perkawinan dengan pengalaman ini. Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan setelah obsesi itu kandas? Generasi lama memilih untuk menjalankan perkawinan penuh dengan penderitaan. Generasi baru memikirkan jalan untuk melompat keluar dari neraka itu.
Orang tidak harus memilih satu dari dua pemecahan itu. Ada pemecahan ketiga. Orang bisa menerima pengalaman jatuh cinta sebagaimana adanya, teler emosional sementara, dan mulai memperjuangkan cinta sejati. Cinta sejati bersifat emosional tetapi tidak obsesional, kesatuan emosi dan pikiran sehat. Untuk mendapatkan cinta yang demikian, diperlukan kemauan yang kuat dan disiplin, serta kesadaran akan perlunya pertumbuhan diri.
Usaha untuk mendapatkan cinta sejati berpangkal dari keputusan atau pilihan untuk mencinta. Dalam perkawinan cinta berarti, "Aku menikah denganmu, dan aku memilih untuk mengurus semua kepentinganmu." Kemudian, orang itu akan mencari cara-cara yang pantas untuk mengungkapkan pilihan dan keputusan tersebut.
Apakah cinta seperti itu masih mempunyai romantika atau tidak kering? Kebutuhan emosional untuk cinta harus dipenuhi kalau orang ingin perkawinan yang 'basah' atau romantis. Untuk itulah ditawarkan pembahasan mengenai lima bahasa cinta.
    Posted by masthomas on 2009-04-28 20:00:38 | Rating: | Views: 94
    Email This to a Friend            Print This Blog Post  

  Bookmark:
Permalink:  
   Blog Comments

Nothing found
Would you like to comment?

    (Maximum characters: 5000)
    You have characters left.
  Blog Information
 

masthomas


Latest Posts

 Lima Bahasa Cinta

masthomas's Links

 No links found

Blog Categories

 Nothing found

Blog Archive

 April 2009 (1)

Comment Archives

 No comments found

Page load time: 0.51165914535522 ms